Kamis, 26 November 2015

Dua Minggu

Senin. Minggu pertama.

Hari sudah gelap dan cuaca sedang tidak bersahabat bagi orang - orang yang baru pulang kerja. Malam ini, air hujan turun deras dari langit lengkap dengan petir dan kilat yang menyambar bersaut - sautan. Langit yang gelap sesekali menjadi terang terpapar cahaya kilat, seperti kamar gelap disingkap tabirnya.

Badanku basah kuyup. Aku lupa membawa payung. Air hujan masuk ke dalam sepatuku dan merendam kakiku yang dibalut kaus kaki. Dingin. Namun, aku beruntung aku sudah sampai di depan pagar rumah kontrakanku. Tak dapat aku bayangkan bagaimana orang - orang yang masih harus berjuang melewati hujan badai malam ini dan banjir yang terjadi dimana - mana untuk sampai ke rumah mereka. Terimakasih kepada pemerintah dengan manajemen tata kota mereka yang buruk.

Setelah mandi dan membersihkan diri, aku rebahkan diriku di atas dipan sambil mengecek smartphone yang tadi aku charge sembari aku tinggal mandi. Ada beberapa notifikasi Whatsapp dan beberapa kali missed calls. Aku abaikan notifikasi Whatsapp dan kulihat siapa yang menelponku tadi. Ternyata Yuni. Aku tidak terkejut karena memang sering Yuni meneleponku, untuk sekedar memastikan kalau aku baik - baik saja. Ingin kutelpon balik, tetapi akhirnya kuputuskan untuk tidur saja karena aku merasa sangat letih sekali malam ini.

. . .

Ah, enaknya kalau aku bisa tidur siang di kantor. Siang hari pada jam - jam setelah waktu makan siang adalah waktu yang paling suntuk untukku di kantor. Aku punya kebiasaan buruk, menjadi mengantuk sekali setelah makan siang. Mungkin tadi aku makan siang terlalu banyak. Kulihat beberapa rekan kerjaku juga mengantuk. Aku sedang menggeliatkan badanku di kursi kubikelku untuk menghilangkan kantuk, ketika aku mendengar suara bosku memanggilku.

"Yudhi, besok kamu pergi ke Bandung ya! Besok ada simposium kesehatan untuk kalangan dokter, kita jadi sponsor di sana dan kita dapat kesempatan untuk presentasi produk kita. Kamu presentasikan Nosartan, bisa kan?" kata bosku.

Aku yang lagi asyik menggeliat, terkejut dan segera merapikan posisi dudukku. Biarpun suasana kerja di kantorku ini santai, tetapi tetap saja tidak enak kalau terlihat leha - leha di jam kerja, apalagi kalau dilihat bos.

"Oh iya pak! Saya siap berangkat besok!" jawabku kaget.

"Bagus kalau begitu. Kamu nanti ditemani Donny ke sana. Oia, kalau bisa kamu tunjukkan materi presentasinya ke saya hari ini ya. Kan, sudah saya minta untuk persiapkan materinya sejak tempo lalu kalau - kalau harus presentasi."

"Oke pak, siap!"

Mendadak banget tugas keluar kota kali ini. Apalagi tugas kali ini adalah presentasi Nosartan yang merupakan varian produk baru dari perusahaan tempatku bekerja. Produk ini merupakan obat yang digunakan sebagai terapi hipertensi, berisikan zat aktif Irbesartan. Irbesartan merupakan obat antihipertensi dari golongan Angiotensin II Receptor Blockers, atau yang biasa disebut ARB. Obat dari golongan ARB bekerja sebagai antagonis kompetitif dari Angiotensin II pada reseptor AT-1 yang terdapat dalam tubuh. ARB merupakan obat yang kuat dan bekerja secara selektif menghambat efek biologis langsung maupun tidak langsung dari Angiotensin II, yang di antaranya adalah (1) kontraksi dari otot polos vaskuler, (2) respon peningkatan tekanan darah secara cepat maupun lambat, (3) rasa haus, (4) pelepasan vasopressin, (5) sekresi aldosteron, (6) pelepasan katekolamin adrenal, dan (7) peningkatan kerja saraf simpatis. Obat lain yang termasuk dalam golongan ARB adalah Losartan, Telmisartan, Valsartan, Candesartan Cilexetil, Olmesartan Medoxomil, dan Eprosartan.

Selepas jam pulang kantor aku langsung pulang menuju rumah kontrakanku di daerah sekitar Pulo Gadung Trade Center. Aku ingin segera istirahat sebentar untuk kemudian mempelajari materi presentasiku untuk besok. Sembari bersantai, aku menelpon Yuni, untuk mengabari kalau besok aku harus ke Bandung.

"Halo assalamualaikum. Mas Yudhiiiii!" suara girang Yuni di seberang telepon.

"Waalaikumsalam. Halo Yuni, udah pulang belum kamu?"

"Belum nih mas, aku harus lembur, masih ada sampel bets yang harus aku kerjain nih. Mas udah di rumah?"

"Iya udah nih baru aja mandi sore."

"Kok tumben telpon jam segini mas? Ada apa?"

"Ya gapapa. Pengen nanyain kamu udah pulang belum, gitu. Oia, aku mau bilang kalau besok aku harus tugas ke Bandung, harus presentasi di simposium."

"Wah ke Bandung! Asyik banget mas nih kerjanya jalan - jalan melulu. Oleh - oleh ya mas, hihihi." canda Yuni.

"Yaa beres nanti dibawain oleh - oleh, hahaha. Ya sudah lanjut dulu kerjanya nanti makin lama lemburnya. Semangat ya!" jawabku.

"Okaaay, nanti aku telpon kalau aku sudah pulang yaa, mas!

. . .

Pagi pada keesokan harinya sebelum pukul tujuh aku dan Donny sudah berkumpul di sebuah pool dari agen travel ke Bandung di daerah pertokoan Pulomas. Kami langsung berangkat ke Bandung tanpa ke kantor terlebih dahulu untuk mengejar acara simposium di Bandung pada siang harinya. Simposium hari ini diadakan di sebuah hotel berbintang 5+ di daerah Batununggal, Bandung.

Sebenarnya, menyenangkan sekali bisa ditugaskan keluar kota seperti ini. Ya, anggap saja sekalian jalan - jalan daripada suntuk dengan pekerjaan di kantor dan hiruk pikuk di daerah ibukota, apalagi kawasan industri seperti tempat kantorku berada. Di musim kemarau, jalanan berdebu dan selalu dipenuhi truk - truk yang bertugas mengantarkan bahan baku yang akan diolah atau hasil produksi dari industri di sekitar. Selain itu, diperparah juga oleh perbaikan jalan yang banyak dilakukan untuk menambal lubang - lubang di jalan yang rusak akibat kelebihan beban tonase dan guyuran air hujan di musim hujan sebelumnya. Sedangkan di musim hujan, air menggenang dimana - mana karena sistem drainase yang tidak dirawat dengan baik. Apalagi pada waktu - waktu puncak musim hujan, sekitar bulan Februari. Setelah terjadi hujan badai sehari semalam, air sungai Ciliwung meluap karena tidak mampu menampung lonjakan debit air dan menyebabkan jalanan tergenang air sampai setinggi paha orang dewasa. Aku masih ingat betul pada waktu itu kantor diliburkan karena akses jalan menuju kantor tidak dapat dilalui kendaraan.

Di perjalanan ke Bandung, mobil yang aku tumpangi penuh terisi tanpa menyisakan kursi kosong. Kebanyakan penumpang adalah perempuan, sementara laki - laki di mobil ini hanya aku, Donny, supir, dan seorang lagi yang duduk di kursi tepat di belakang supir. Aku dan Donny mendapat duduk di deretan jok paling belakang. Di deretan paling belakang dapat dimuati oleh 4 orang penumpang. Donny duduk di kursi paling kiri, bersebelahan dengan jendela mobil, sementara aku duduk disebelah kanannya. Duduk di sebelah kananku dua orang perempuan yang terlihat seperti tipikal perempuan eksekutif muda.

Ketika mobil yang aku tumpangi mendekati pintu keluar tol Buahbatu, terasa supir mengemudikan mobilnya dengan laju yang cukup pelan. Setelah melewati antrian di pintu keluar tol, supir menepikan mobil lalu menoleh ke belakang dan berkata,

"Mohon maaf bapak dan ibu sekalian, kayaknya ban mobil sebelah kanan belakang bocor, saya mau cek dulu sekarang, daripada nanti celaka di jalan. Sekali lagi mohon maaf atas pelayanan kami."

Riuh rendah suara para penumpang saling mengomentari keadaan ini. Kalau memang bannya bocor, aku sih merasa beruntung sekali karena kami tidak celaka selama di jalan tol tadi, mengingat kecepatan mobil cukup ngebut tadi.

"Mohon maaf bapak dan ibu sekalian, ternyata bannya beneran bocor, jadi harus diganti dulu. Saya mohon bapak dan ibu untuk turun dulu sementara saya mengganti ban mobil."

Orang - orang terpaksa turun sambil mengomel. Bahkan, ada yang marah - marah, kenapa tidak dilakukan pengecekan dahulu sebelum berangkat dari Jakarta tadi. Sementara aku memilih untuk mengaso di bawah sebuah pohon randu yang tumbuh tidak jauh dari supir menepikan mobilnya. Kulihat Donny berusaha membantu si supir sambil mengajaknya mengobrol. Mungkin dia kasihan dengan si supir yang kena omelan dari salah satu penumpang. Sambil berteduh, kuambil sebatang kretek filter dari saku dan kunyalakan dengan korek api kayu. Sebentar kemudian aku sudah asyik merokok sambil melihat kendaraan yang lalu lalang. Memang luar biasa racikan rempah cengkeh dan tembakau dalam kretek untuk dinikmati ketika santai, menenangkan.

"Misi mas, ikut gabung neduh ya, panash banget soalnya." kudengar suara seorang wanita dengan setelan blouse merah muda dan rok hitam berkata kepadaku sambil tersenyum. Kalau tidak salah, dia adalah penumpang wanita yang duduk di sebelahku selama perjalanan tadi.

"Oh iya boleh mbak, silakan." kataku sambil menjauh untuk menghisap kretekku beberapa kali sebelum mematikannya. Sayang sekali padahal belum separonya aku merokok.

"Wah makasi mas udah mau matiin rokoknya. Mas ini ga kayak perokok - perokok pada umumnya ya yang ngga peka."

"Maksudnya mbak? Hahaha. Saya cuma berusaha untuk tahu diri mbak, jaman sekarang perokok ngga bisa merokok sembarangan kayak dulu."

"Bagus itu. Berarti mas ini perokok budiman ya." katanya sambil terkekeh. "Oia mas, ngga usah panggil mbak. Nama gue Olivia, panggil aja Oliv."

"Gue Yudhistira, biasa dipanggil Yudhi." balasku sambil tertawa ringan.

"Kayaknya lama ya ganti ban mobilnya."

"Ah, sebentar lagi juga selesai, itu supirnya dibantu sama temen gue." jawabku sambil nyengir dan menunjuk si Donny.

"Wah, kok lo malah neduh di sini Yud, bukannya bantu temen lo?"

"Gue ada presentasi nanti. Ga lucu kan kalau gue presentasi pake baju lecek dan kotor. Lagian, gue cuma bawa baju yang gue pake ini, Liv." jawabku membela diri. "Lo sendiri ke Bandung ngapain nih, Liv?"

"Ih kepo lo yaa!" balas Olivia sambil tertawa menggodaku. "Gue ada urusan kantor nih, gue dikirim kantor untuk audit salah satu perusahaan di Bandung gitu." papar Oliv.

"Hmm pantes tadi gue lihat lo kayak sibuk baca laporan keuangan gitu yah?" tanyaku kelepasan.

"Wah ternyata ada yang merhatiin gue nih daritadi! Ketahuan ya looo!" balas Olivia sambil tertawa lepas menggodaku, membuatku ikut tertawa juga untuk menutupi malu.

Obrolan kami membuat waktu terasa cepat dan tanpa disadari mobil sudah selesai diganti ban dengan ban cadangan. Donny memanggilku untuk segera menaiki mobil. Aku dan Oliv pun segera menyusul untuk masuk ke mobil agar tidak membuat penumpang lain menunggu semakin lama.

Di sepanjang sisa perjalanan, aku dan Oliv mengobrol banyak hal. Aku merasa Olivia adalah wanita yang luwes, cerdas dan berwawasan luas. Terasa sekali bahwa obrolan kami sangat nyambung, meskipun kami berdua berasal dari latar belakang yang sama sekali berbeda. Dia juga tidak segan dan bersikap terbuka untuk bertanya mengenai masalah yang dia kurang pahami. Oliv menanyakan kepadaku mengenai kondisi perutnya yang akhir - akhir ini kadang terasa perih sekali saat jam - jam kantor.

"Yud, kok akhir - akhir ini perut gue kadang sakiit banget gitu ya? Sakitnya di perut bagian atas gitu" tanya Oliv seraya meraba perutnya.

"Sakitnya muncul kalo waktu apa, Liv?" balasku, berusaha menggali informasi.

"Kadang gue telat makan, sih. Kadang ga sempat sarapan atau makan siangnya kesorean. Nah, setelah gue makan, perut gue malah terasa sakit. Terus, jadi pengin sendawa terus gitu gue, Yud, tapi itu susah keluar juga sendawanya. Kadang, sendawanya ada cairan asam yang ikut naik sampai ke mulut gitu, Yud. Pokoknya ngga enak banget deh."

"Kalau dilihat dari gejalanya sih kayaknya lo sakit Gastroesophageal Reflux Disease atau disingkat GERD."

"Kok namanya serem sih, Yud. Terus, gimana Yud biar perut gue ga sakit lagi?"

"Menurut gue sih lo harus atur pola makan dan berusaha untuk makan tepat waktu, Liv. Itu yang paling utama. Kalau pola makan lo teratur udah ngebantu banget untuk sembuh. Tapi kalo susah, lo bisa minum antasida sejam sebelum makan Liv. Obat itu juga sifatnya cuma mengurangi gejala aja. Sebaiknya sih lo periksa ke dokter Liv, biar lebih yakin diagnosanya." jawabku sambil tersenyum.

Iya deh nanti gue usahain cari waktu untuk ke dokter. Thanks ya, Yud."

GERD adalah kondisi dimana sfingter esofagus bagian bawah gagal untuk menutup dengan sempurna, menyebabkan cairan asam lambung naik ke esofagus dan menyebabkan rasa tidak nyaman di bagian dada atau perut bagian atas, dan hal itu terjadi dengan frekuensi yang sering. Gejala yang umum dari GERD adalah heartburn (rasa terbakar pada bagian dada atau perut bagian atas), dan sendawa yang kadang disertai cairan asam sampai ke mulut. Dalam kondisi yang kronis, dapat terjadi iritasi pada mukosa esofagus yang disebabkan cairan asam lambung. Jika tidak ditangani dengan serius, GERD dapat menyebabkan berbagai macam komplikasi seperti Barret's esophagus dan kanker esofagus.

GERD dapat ditangani dengan perubahan pola hidup dan dengan terapi obat - obatan. Tujuan dari terapi adalah untuk meringankan gejala, mengurangi frekuensi kejadian, memperbaiki kerusakan mukosa esofagus dan mencegah komplikasi.

Pola hidup yang dapat dilakukan untuk menangani GERD antara lain adalah (1) menghindari langsung tidur setelah makan, (2) menghindari makanan yang dapat mengurangi kemampuan sfingter esofagus bagian bawah untuk menutup seperti lemak, coklat, dan alkohol, (3) menghindari makanan yang dapat menyebabkan iritasi pada mukosa esofagus seperti makanan pedas, jus jeruk dan tomat, dan kopi, (4) makan dalam porsi yang lebih kecil, (5) mengurangi berat badan, (6) berhenti merokok dan hindari konsumsi alkohol, dan (7) hindari menggunakan pakaian yang ketat.

Sementara itu, terapi farmakologis yang dapat dilakukan adalah dengan pemberian obat antasida, antagonis reseptor H2, dan inhibitor pompa proton. Pemberian terapi farmakologis disesuaikan dengan gejala dan tingkat keparahan yang dialami penderita.

Di perempatan Jalan Lingkar Selatan - Gatot Subroto aku dan Donny harus turun. Ya, kami bersama beberapa penumpang lain harus turun karena mobil travel yang kami tumpangi harus meneruskan perjalanan menuju poolnya di Cihampelas. Dari sini, aku dan Donny harus meneruskan perjalanan dengan taksi menuju hotel tempat simposium diadakan, yang terletak di Jalan Gatot Subroto. Hal ini berarti aku juga harus berpisah dengan Olivia. Suatu pengalaman yang menyenangkan bisa berkenalan dan mengobrol dengan wanita seperti Oliv.

Jam menunjukkan waktu pukul sebelas kurang dua puluh menit ketika aku dan Donny sampai di lobi hotel. Perusahaan kami mendapat giliran presentasi pada pukul satu setelah makan siang. Kalau tidak karena harus mengganti ban di perjalanan tadi, mungkin kami bisa sampai di sini pukul sepuluh. Masih ada waktu senggang cukup banyak sebelum waktu makan siang. Kemudian, aku dan Donny memutuskan untuk bertemu dengan teman - teman perwakilan perusahaan kami dari cabang kota Bandung yang sudah hadir sebelum kami. Selanjutnya, kami mendiskusikan poin - poin penting dari materi presentasi kami, mengingat bahwa kami tidak hanya harus mempresentasikan tentang produk terbaru kami, tetapi juga harus menarik perhatian, atau paling tidak, memicu rasa ingin tahu dari para calon konsumen kami, yaitu para dokter. Sebentar, bukankah yang menggunakan obat adalah para pasien? Ya, itu benar, tetapi yang berwenang untuk meresepkan obat adalah dokter, kan?

. . .

"Yudhi, gimana presentasi kemarin?"

"Respon dari para peserta yang nonton presentasi saya kemarin cukup bagus pak. Mereka cukup antusias dan menunjukkan minat terhadap produk terbaru kita itu. Tinggal nanti kita buat strategi aja untuk jemput peluang ini pak. Mungkin para dokter itu memang sudah paham kalau produk perusahaan kita terkenal baik mutunya." jawabku.

"Bagus! Saya tunggu LPJ dari kamu, bawa ke meeting nanti sore untuk membahas strategi marketing selanjutnya."

"Baik pak."

Mengerjakan LPJ membuatku teringat kepada Oliv. Aku harus hubungi dia, untuk makan malam atau sekedar ngopi bareng.

Malam keesokan harinya, di hari Jumat, hujan turun rintik - rintik di daerah Kelapa Gading. Tetapi, aku tak peduli. Di luar mungkin saja dingin, tetapi aku punya secangkir kopi espresso yang menghangatkanku, dan juga cerita - cerita yang dipertukarkan, mengakrabkan dengan canda dan tawa. Aku tak peduli pada apapun. Aku ingin menikmati malam ini bersama Olivia saja. Malam itu, aku pulang dengan senyuman dan hati yang menggebu.

Aku lupa pada janjiku untuk membelikan Yuni buah tangan dari Bandung. Aku bahkan lupa bahwa esok paginya di akhir pekan aku ada janji dengan Yuni.

Akhir pekanku kuhabiskan bersama Yuni, menemani dia jalan - jalan dan mendengarkan cerita - cerita dari hidupnya selama sepekan ini. Oh, Yuni sama sekali tidak marah ketika aku terlambat menemuinya dan tidak membawa oleh - oleh dari Bandung. Yuni memang baik, bahkan teramat baik kepadaku.

Sepanjang hari itu bersama Yuni, aku seperti tidak berada di tempat aku berada. Diriku yang aku entah kemana. Diriku yang aku menelusuri malam ketika hujan gerimis ditemani secangkir espresso dan bidadari bernama Olivia.

Blouse berbahan sheer yang dikenakannya berwarna khaki, dimasukkan ke dalam rok selutut yang tidak ketat, tetapi juga tidak terlalu longgar, senyuman dari bibir merah red velvet, alis yang tertata halus dan rapi, rambut halus hitam legam panjang sampai dada yang digerai bebas, terpangku dengan indah di pundaknya dan bergelung - gelung diujungnya, dan tinggi tubuh yang semampai dengan pundak yang manis, anggun sekali. Sangat anggun! Oh! Bagaimana tidak aku selalu terbayang - bayang pada Olivia! Olivia yang baru aku kenal 4 hari yang lalu itu!

"Mas Yudhi, kok kamu bengong sayang?"

"...."

"Sayang, kamu kenapa kok diem aja?" tanya Yuni sambil mengusap lembut tanganku.

"Ah! Oh, gapapa kok sayang." jawabku kaget dan tergagap.

"Kamu mikirin apa sayang? Kok daritadi bengong aja? Aku aja ngobrol kayak ga nyambung gitu.

"Ah, aku gapapa kok Yun. Mungkin aku cuma capek. Maaf ya sayang aku bengong." jawabku berusaha mengelak.

Senin. Minggu kedua.

Sejak pertemuan di Jumat malam itu aku tidak bisa berhenti memikirkan Olivia. Aku ingin bertemu dengannya lagi dan lagi. Aku ingin mendengar suaranya lagi, dan menyimpan senyum dan tawanya dalam bingkai kaca. Aku ingin memilikinya.

Sepulangnya dari kantor, aku dan Oliv berjanji untuk bertemu lagi untuk makan malam. Olivia tidak pernah gagal untuk membuatku terpesona. Ada sesuatu dari dirinya yang membuat pria sepertiku penasaran. Semakin aku cari tahu lebih dalam, semakin penasaran aku dibuatnya. Mungkin kerlingan matanya. Mungkin juga sudut di senyumnya. Malam itu kami mengiyakan untuk lebih sering bertemu. Di malam itu, kami merencanakan untuk berakhir pekan bersama. Entah kemana tujuannya atau apa kegiatannya, hal yang penting adalah kami bisa bertemu lagi.

Sabtu. Minggu kedua.

"Kita adu skor dan jumlah strike ya! Yang bisa dapet skor paling banyak, apalagi bisa strike, bisa minta apa aja dari yang kalah. Gimana? Berani ngga?" tantang Oliv.

"Okay! Siapa takut! Kecil kalo cuma begitu doang sih!" balasku semangat sambil mengambil bola bowling ukuran 14, lalu diikuti tawa kami berdua.

Game demi game bowling kami lewati dengan saling ganggu dan canda tawa, juga diselingi berfoto dan saling merekam permainan bowling masing - masing dalam video. Aku tak pernah merasa begitu semangat seperti sekarang ini jika bersama orang lain. Kalau aku boleh menebak, kurasa Oliv juga merasakan hal yang sama denganku. Mungkin ini malam yang paling menyenangkan sepanjang hidupku sampai saat ini.

Aku dan Oliv sedang beristirahat sebentar dan memesan minuman untuk dibawa ke arena bowling, ketika ada seseorang yang memanggilku. Seseorang yang aku kenal betul suaranya. Seseorang yang selalu peduli terhadap diriku.

"Mas Yudhi, kok kamu di sini?"

. . .





Tidak ada komentar:

Posting Komentar